image

Banyak jaringan kerja LBH Jakarta, media, ataupun masyarakat telah mengenal para pengacara publik LBH Jakarta. Hal tersebut karena kerja pengacara publik yang memang mensyaratkan kampanye publik dalam kerja advokasinya. Tidak banyak yang mengenal pengabdi bantuan hukum yang bukan pengacara publik, padahal perannya sangat signifikan. Banyak juga pengabdi bantuan hukum yang akhirnya minder dengan pengacara publik, bahkan ada yang merasa bukan aktivis. Saya akan perkenalkan profil-profil pengabdi bantuan hukum di LBH Jakarta di luar pengacara publik sehingga bisa dikenal juga oleh pemangku kepentingan LBH Jakarta. Profil pertama adalah penggalang dana publik bernama Khaerul Anwar.

Khaerul Anwar atau biasa dipanggil Arul telah tiga tahun bekerja di LBH Jakarta. Bapak satu anak ini terlibat dari awal pembuatan tim Solidaritas Masyarakat Peduli Keadilan (SIMPUL), program penggalangan dana publik yang mengumpulkan donasi individu tiap bulan dari masyarakat dan juga mengajak anggota SIMPUL aktif mendukung kerja advokasi LBH Jakarta.

Tiga bulan pertama di LBH Jakarta, Arul langsung mengajukan pengunduran diri. Selain merasa tidak cocok karena hanya berbekal ijazah SMA dan pengalaman sebagai asisten kepala toko disebuah mini market, Arul merasa bebannya terlalu berat untuk bersama membuat sistem dan memandirikan LBH Jakarta melalui penggalangan dana publik. LBH Jakarta tentunya menolak pengunduran diri Arul karena merasa ia ada kemauan mengembangkan diri dan niat tulus untuk mengabdi.

Kemauan untuk mengembangkan diri dan niat yang tulus merupakan modal besar di LBH Jakarta. Ketika Arul bertahan di LBH, Arul langsung ditantang melakukan beberapa hal menurut saya belum tentu bisa dengan cepat dilakukan oleh orang lain, termasuk pengacara publik LBH Jakarta. Pertama, Arul diminta untuk menguasai program design foto. Dalam hitungan minggu Arul sudah bisa design foto sederhana. Sekarang design Arul menurut saya sangat baik. Ode, Kabid Kampanye Strategis banyak membantu Arul. Kedua, Arul diminta untuk menguasai program microsoft access untuk merapikan database anggota SIMPUL. Program yang cukup rumit, namun bisa dikuasai dalam dua bulan saja. Arul inisiatif untuk ikut grup komunitas microsoft access dan aktif bertanya. Ketiga, Arul diminta membuat perencanaan dan pelaporan kerja. Hal ini dikerjakan dengan baik walaupun pada awalnya seringkali bolak-balik penyuntingan. Masalah EYD diatasi  dengan membaca wikipedia yang membahas EYD. Dalam beberapa kali pelaporan kegiatan atau program. Laporan yang dibuat lulusan SMK ini jauh lebih sistematis dan rapi dibandingkan laporan pengacara publik yang sudah terbiasa menulis dan membuat laporan. Keempat, kembangkan kemampuan komunikasi. Kemampuan ini perlahan berkembang. Sikap yang pemalu dan bahkan seringkali minder perlahan hilang. Arul bisa melakukan pendekatan ke calon SIMPUL dan presentasi ke banyak orang sendirian tanpa didampingi rekan kerja yang lain.

Berjalan waktu, Arul banyak belajar sendiri serta didampingi Dodo, Asta, dan Ode. Kemampuan penulisan sangat baik dengan gaya naratif, padahal tidak pernah pelatihan penulisan. Hal ini bisa dilihat diakun FB SIMPUL LBH Jakarta atau akun pribadinya: Khaerul Anwar. Hal lain yang istimewa adalah inisiatif dan punya mimpi, bukan hanya bekerja atas keinginan atasan atau rapat lembaga. Inisiatif disampaikan kepada rekan kerja yang lain dan kemudian dijalankan dengan teamwork yang baik. Terakhir adalah ide untuk menjual kue lebaran yang banyak mendapat apresiasi dan menjadi pintu masuk orang-orang mengenal dan ikut SIMPUL.

Sekarang sekitar 40juta sebulan sudah didapat Arul dan Dodo (Kabid Arul) dibidang penggalangan dana publik. Masih jauh dari target 300 juta sebulan agar LBH Jakarta mandiri secara pendanaan. Namun angka tersebut terus berkembang. Target LBH Jakarta, tahun 2018 nanti lebih dari 50% dana LBH Jakarta berasal dari donasi masyarakat.

LBH Jakarta berharap konsistensi Arul bisa dijaga. Kemauan untuk mengembangkan diri, bekerjasama dengan rekan kerja, dan memiliki inisiatif bisa ditularkan kepada rekan kerja yang lainnya. LBH Jakarta juga berharap Arul akan melanjutkan kuliah, bisa berbahasa Inggris, dan pelajari dengan baik teori penggalangan dana publik. Jika semua dicapai, ditambah dengan kerendahan hati maka Arul akan jadi aktivis yang luar biasa, bukan sekedar penggalang dana publik.

Barel, 25 Juni 2016

Alghif