IMG_20141210_221528_edited-2_resized0Seorang pedagang koran menawarkan koran dalam perjalanan saya menuju ATM&membeli sarapan. Karena LBH Jakarta sudah berlangganan koran, sayapun menolak. Tak berapa lama, mungkin hanya 30 meter, iapun mengejar saya dan memohon membeli koran untuk uang sekolah adiknya. Sayapun membeli koran tersebut. Ternyata koran yang dijual adalah Super Ball seharga Rp.2000. Saya beri Rp.4000. Si penjual koran kemudian memohon bisa tidak diberi Rp.20.000 untuk sekolah adiknya.

Ketika penjual koran meminta Rp.20.000 untuk sekolah adiknya sayapun menyampaikan: “Kalo masalah pendidikan, saya akan bantu surati dan datangi sekolah, saya pengacara LBH Jakarta, silahkan datang ke LBH”. Saya lalu beri nama lengkap saya dan tunjukkan kantor LBH Jakarta. Si penjual koranpun berterima kasih dan berlalu. Sempat terlintas di pikiran saya, si penjual bisa saja berbohong supaya dapat uang dari orang yang merasa kasihan.

Setelah percakapan dengan penjual koran, saya kemudian menuju ATM, tarik uang dan kemudian membeli kue untuk sarapan. Tanpa menanyakan harga, saya langsung pilih 4 potong kue dan satu susu kotak. Kasir bilang: Rp.33.000. Sayapun segera membayar. Cukup mahal untuk sekedar sarapan, tapi sekali-kali bolehlah, dalam hati membela diri.

Dalam perjalanan kembali ke kantor. Saya kemudian berpikir: Kok ada orang yang butuh 20.000 tidak diberi? Bisa jadi orang itu bohong. Tapi kalopun bohong apalah arti 20.000 jika dia benar-benar butuh? Bagaimana jika orang itu tidak berbohong? Apakah si penjual koran akan laporkan masalah pendidikan yg dihadapi adiknya ke LBH? Lalu kenapa saya dengan entengnya beli 4 kue+susu kotak senilai Rp.33.000? Bahkan tanpa bertanya harga terlebih dahulu? Apakah karena saya menjadi sombong karena merasa sudah cukup banyak memberi orang?

Kenapa kita enggan memberi padahal kita sanggup? Kenapa kita enggan memberi padahal memberi tidak akan pernah membuat kita kekurangan? Kenapa kita enggan memberi karena merasa sudah cukup banyak memberi?
Keraguan untuk memberi memang harus dilawan.

Ya Basta!

10 Desember 2014