HAM Masuk Kampung. HAM apa? Hamburger?

IMG_20141205_220332_1JAKARTA, LBH JAKARTA – Pengacara dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) harus bekerja keras dalam “membumikan” HAM, baik dalam pengajuan konsep maupun dalam cara berkomunikasi ke masyarakat. Walaupun Indonesia sudah memiliki Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia (UU No. 39 Tahun 1999), ratifikasi berbagai instrument HAM internasional, dan memiliki satu Bab mengenai HAM dalam konstitusinya, ternyata HAM banyak tidak dimengerti oleh masyarakat awam.

Tidak pahamnya masyarakat terhadap HAM terbukti ketika LBH Jakarta mengadakan kegiatan diskusi HAM Masuk Kampung untuk memperingati Hari HAM Internasional di Kelurahan Tomang pada Jumat malam, 3 Desember 2014. Belasan ibu-ibu yang menjadi peserta diskusi tidak mampu menjawab ketika pengacara dan asisten pengacara publik bertanya: “Apa itu HAM?”. Dua orang ibu dengan cepat menjawab: “Apa? Kita gak ngerti! Hamburger?”. Satu orang ibu menjawab: “Saya tahu ham itu dari film Dono.”-maksudnya hamburger-. Satu orang nenek berusia 80 tahun menjawab: “Hammmmpir jatoh. Eh, hammmmpir kepeleset.”. Dan kemudian si nenek tertawa. Satu orang ibu menjawab: “HAM itu yang Munir dibunuh itu kan?”

Lantas sayapun teringat seorang pejabat publik yang pernah mengatakan: “Apa itu HAM? Hamburger?”. Wah! Ternyata kita masih jauh dari kehidupan yang penuh penghormatan dan pemenuhan HAM. Banyak yang tidak tau apa itu HAM, pejabat publik juga meremehkan HAM. Padahal HAM sudah menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari konstitusi.

Gading, Asisten Pengacara Publik LBH Jakarta, kemudian memberikan pemahaman apa itu HAM. “HAM adalah hak dasar manusia yang didapat oleh manusia sejak ia lahir, anugrah Tuhan, dan wajib dipenuhi oleh Negara”, ucap Gading. Diskusi dengan ibu-ibu Kelurahan Tomang ini pun dilanjutkan dengan penjelasan pembagian HAM, yaitu Hak Sipil dan Politik, serta Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Gading kemudian menjelaskan contoh-contoh Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, antara lain hak atas pekerjaan, hak atas upah dan kondisi kerja yang layak, hak untuk berserikat dan melakukan mogok, hak atas kesehatan, hak atas pendidikan, hak atas tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Setelah diberikan pemaparan mengenai jenis-jenis hak asasi manusia, suasana pun menjadi riuh. Ternyata persoalan yang mereka hadapi sehari-hari adalah persoalan HAM. Tempat tinggal mereka terancam digusur, banyak pengangguran, bekerja tapi upah tidak layak, seorang ibu harus berhutang untuk biayai pendidikan, seorang ibu bercerita anak dari saudaranya tidak bisa masuk sekolah jika tidak membeli buku, seorang ibu berharap anaknya kelak bisa kuliah gratis, dan berbagai permasalahan lain yang biasa mereka hadapi sehari-hari. Ibu-ibupun kemudian berkonsultasi lebih dalam mengenai cara mengatasi permasalahan HAM tersebut.

Alghif, Pengacara Publik LBH Jakarta kemudian memaparkan mengenai tanggung jawab Negara dalam pemenuhan HAM. Negara berjanji untuk memenuhi HAM tersebut dengan melakukan ratifikasi-ratifikasi kovenan internasional, membuat undang-undang, dan bahkan memasukkan di dalam konstitusi. Oleh karenanya Negara punya tanggung jawab menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM setiap warga negaranya. Lalu ibu-ibu bertanya: “Lho, kalo begitu kenapa kita mau digusur? Kenapa pemerintah gak penuhi?”. Alghif kemudian menyampaikan: “Karena itu HAM harus selalu disuarakan, HAM harus dituntut, tidak ada HAM yang diberi dengan cuma-cuma.” Di akhir diskusi, ibu-ibupun sepakat bahwa HAM harus diperjuangkan dan meminta LBH Jakarta untuk membantu. Ibu-ibupun sepakat jika tetangganya atau saudaranya memiliki permasalahan HAM, maka harus diperjuangkan bersama.

Setelah diskusi mengenai HAM di acara HAM Masuk Kampung, lalu bagaimanakah cara HAM itu dipromosikan seperti hamburger? Bagaimana cara “hamburger” itu direbut dan diperjuangkan?. (@AlghifAqsa)