Cari

Public Interest Lawyer

Justice for All

bulan

Desember 2014

Kenapa Enggan Memberi?

IMG_20141210_221528_edited-2_resized0Seorang pedagang koran menawarkan koran dalam perjalanan saya menuju ATM&membeli sarapan. Karena LBH Jakarta sudah berlangganan koran, sayapun menolak. Tak berapa lama, mungkin hanya 30 meter, iapun mengejar saya dan memohon membeli koran untuk uang sekolah adiknya. Sayapun membeli koran tersebut. Ternyata koran yang dijual adalah Super Ball seharga Rp.2000. Saya beri Rp.4000. Si penjual koran kemudian memohon bisa tidak diberi Rp.20.000 untuk sekolah adiknya.

Ketika penjual koran meminta Rp.20.000 untuk sekolah adiknya sayapun menyampaikan: “Kalo masalah pendidikan, saya akan bantu surati dan datangi sekolah, saya pengacara LBH Jakarta, silahkan datang ke LBH”. Saya lalu beri nama lengkap saya dan tunjukkan kantor LBH Jakarta. Si penjual koranpun berterima kasih dan berlalu. Sempat terlintas di pikiran saya, si penjual bisa saja berbohong supaya dapat uang dari orang yang merasa kasihan.

Setelah percakapan dengan penjual koran, saya kemudian menuju ATM, tarik uang dan kemudian membeli kue untuk sarapan. Tanpa menanyakan harga, saya langsung pilih 4 potong kue dan satu susu kotak. Kasir bilang: Rp.33.000. Sayapun segera membayar. Cukup mahal untuk sekedar sarapan, tapi sekali-kali bolehlah, dalam hati membela diri.

Dalam perjalanan kembali ke kantor. Saya kemudian berpikir: Kok ada orang yang butuh 20.000 tidak diberi? Bisa jadi orang itu bohong. Tapi kalopun bohong apalah arti 20.000 jika dia benar-benar butuh? Bagaimana jika orang itu tidak berbohong? Apakah si penjual koran akan laporkan masalah pendidikan yg dihadapi adiknya ke LBH? Lalu kenapa saya dengan entengnya beli 4 kue+susu kotak senilai Rp.33.000? Bahkan tanpa bertanya harga terlebih dahulu? Apakah karena saya menjadi sombong karena merasa sudah cukup banyak memberi orang?

Kenapa kita enggan memberi padahal kita sanggup? Kenapa kita enggan memberi padahal memberi tidak akan pernah membuat kita kekurangan? Kenapa kita enggan memberi karena merasa sudah cukup banyak memberi?
Keraguan untuk memberi memang harus dilawan.

Ya Basta!

10 Desember 2014

Iklan

HAM Masuk Kampung. HAM apa? Hamburger?

HAM Masuk Kampung. HAM apa? Hamburger?

IMG_20141205_220332_1JAKARTA, LBH JAKARTA – Pengacara dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) harus bekerja keras dalam “membumikan” HAM, baik dalam pengajuan konsep maupun dalam cara berkomunikasi ke masyarakat. Walaupun Indonesia sudah memiliki Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia (UU No. 39 Tahun 1999), ratifikasi berbagai instrument HAM internasional, dan memiliki satu Bab mengenai HAM dalam konstitusinya, ternyata HAM banyak tidak dimengerti oleh masyarakat awam.

Tidak pahamnya masyarakat terhadap HAM terbukti ketika LBH Jakarta mengadakan kegiatan diskusi HAM Masuk Kampung untuk memperingati Hari HAM Internasional di Kelurahan Tomang pada Jumat malam, 3 Desember 2014. Belasan ibu-ibu yang menjadi peserta diskusi tidak mampu menjawab ketika pengacara dan asisten pengacara publik bertanya: “Apa itu HAM?”. Dua orang ibu dengan cepat menjawab: “Apa? Kita gak ngerti! Hamburger?”. Satu orang ibu menjawab: “Saya tahu ham itu dari film Dono.”-maksudnya hamburger-. Satu orang nenek berusia 80 tahun menjawab: “Hammmmpir jatoh. Eh, hammmmpir kepeleset.”. Dan kemudian si nenek tertawa. Satu orang ibu menjawab: “HAM itu yang Munir dibunuh itu kan?”

Lantas sayapun teringat seorang pejabat publik yang pernah mengatakan: “Apa itu HAM? Hamburger?”. Wah! Ternyata kita masih jauh dari kehidupan yang penuh penghormatan dan pemenuhan HAM. Banyak yang tidak tau apa itu HAM, pejabat publik juga meremehkan HAM. Padahal HAM sudah menjadi bagian yang tidak dipisahkan dari konstitusi.

Gading, Asisten Pengacara Publik LBH Jakarta, kemudian memberikan pemahaman apa itu HAM. “HAM adalah hak dasar manusia yang didapat oleh manusia sejak ia lahir, anugrah Tuhan, dan wajib dipenuhi oleh Negara”, ucap Gading. Diskusi dengan ibu-ibu Kelurahan Tomang ini pun dilanjutkan dengan penjelasan pembagian HAM, yaitu Hak Sipil dan Politik, serta Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Gading kemudian menjelaskan contoh-contoh Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya, antara lain hak atas pekerjaan, hak atas upah dan kondisi kerja yang layak, hak untuk berserikat dan melakukan mogok, hak atas kesehatan, hak atas pendidikan, hak atas tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Setelah diberikan pemaparan mengenai jenis-jenis hak asasi manusia, suasana pun menjadi riuh. Ternyata persoalan yang mereka hadapi sehari-hari adalah persoalan HAM. Tempat tinggal mereka terancam digusur, banyak pengangguran, bekerja tapi upah tidak layak, seorang ibu harus berhutang untuk biayai pendidikan, seorang ibu bercerita anak dari saudaranya tidak bisa masuk sekolah jika tidak membeli buku, seorang ibu berharap anaknya kelak bisa kuliah gratis, dan berbagai permasalahan lain yang biasa mereka hadapi sehari-hari. Ibu-ibupun kemudian berkonsultasi lebih dalam mengenai cara mengatasi permasalahan HAM tersebut.

Alghif, Pengacara Publik LBH Jakarta kemudian memaparkan mengenai tanggung jawab Negara dalam pemenuhan HAM. Negara berjanji untuk memenuhi HAM tersebut dengan melakukan ratifikasi-ratifikasi kovenan internasional, membuat undang-undang, dan bahkan memasukkan di dalam konstitusi. Oleh karenanya Negara punya tanggung jawab menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM setiap warga negaranya. Lalu ibu-ibu bertanya: “Lho, kalo begitu kenapa kita mau digusur? Kenapa pemerintah gak penuhi?”. Alghif kemudian menyampaikan: “Karena itu HAM harus selalu disuarakan, HAM harus dituntut, tidak ada HAM yang diberi dengan cuma-cuma.” Di akhir diskusi, ibu-ibupun sepakat bahwa HAM harus diperjuangkan dan meminta LBH Jakarta untuk membantu. Ibu-ibupun sepakat jika tetangganya atau saudaranya memiliki permasalahan HAM, maka harus diperjuangkan bersama.

Setelah diskusi mengenai HAM di acara HAM Masuk Kampung, lalu bagaimanakah cara HAM itu dipromosikan seperti hamburger? Bagaimana cara “hamburger” itu direbut dan diperjuangkan?. (@AlghifAqsa)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑