Tips Berorasi[1]

Orasi

Mungkin terdengar konyol bahwa orasi saja butuh tips atau panduan. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa bicara di depan orang banyak, berorasi tentunya bukan masalah. Terlebih bagi sebagian orang, orasi justru bisa menjadi panggung tempat ia menunjukkan kemampuannya.

Bagi pekerja bantuan hukum, asisten pengacara publik, atau pengacara publik, memiliki kemampuan berorasi sangat penting. Hal tersebut karena pengacara publik lebih banyak menggunakan upaya non litigasi, litigasi hanyalah saluran terakhir dari advokasi. Demonstrasi adalah salah satu bentuk advokasi non litigasi yang sering digunakan, dan cukup efektif untuk mengkritisi kebijakan. Dalam demonstrasi umumnya selalu ada orasi. Namun, tidak banyak aktivis atau pekerja bantuan hukum yang bisa berorasi. Terlebih bagi aktivis atau pekerja bantuan hukum yang jarang mengikuti aksi; perasaan gugup, hilang konsentrasi, atau kehilangan konteks sering menjadi masalah.

Adapun dalam demonstrasi, tujuan dari orasi antara lain sebagai berikut:

  1. Memberi pesan atau tuntutan kepada instansi yang dituju.
  2. Menegaskan pesan atau tuntutan kepada media.
  3. Memberi pesan dan meminta simpati masyarakat.
  4. Mendidik aparatur keamanan yang berjaga agar memahami isu yang diangkat sehingga menimbulkan simpati.
  5. Menghidupkan suasana aksi.

Berdasarkan hal tersebut, berikut sedikit tips untuk berorasi berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman dalam orasi di berbagai demonstrasi. Tips akan dibagi kedalam 3 tahapan:

  1. Persiapan
  • Biasakanlah memahami setiap isu dalam demonstrasi, jangan pernah ikut-ikutan dalam demonstrasi. Pun, dalam aksi solidaritas, harus tetap menguasai isu. Baca press release, selebaran, ataupun artikel terkait isu yang diangkat dalam demonstrasi. Bisa juga menyimak materi orasi yang disampaikan sebelumnya.
  • Susun kerangka orasi.
  • Jika terdapat permintaan mendadak untuk berorasi (impromptu speech). Segera pikirkan dengan cepat kerangka orasi. Wawasan memang jadi andalan dalam impromptu speech.

         2. Orasi

Beberapa tahap yang sering digunakan oleh orator dalam berorasi:

  • Pembukaan

Pembukaan bisa diisi dengan sedikit perkenalan, ucapan terima kasih, yel-yel, ataupun lagu perjuangan.

  • Pembahasan Substansi

Substansi dapat berisikan permasalahan apa saja yang akan diangkat. Kemudian analisa. Bagi pekerja bantuan hukum paparkan analisa hukum, landasan yuridis, filosofis, dan sosiologis dari permasalahan yang ada. Di tengah pembahasan substansi ini, orator dapat mengajak peserta aksi untuk aktif dengan melontarkan pertanyaan yang sekiranya jawabannya sangat singkat dan bisa lantang disampaikan. Terakhir adalah apa solusi dari permasalahan tersebut, apa dorongan ke pemerintah atau instansi yang dituju, dan apa yang harus dilakukan oleh peserta aksi dan juga masyarakat.

  • Penutup

Umumnya penutup dari orasi adalah yel-yel, pernyataan optimis untuk peserta aksi, harapan ataupun doa terkait permasalahan yang diangkat.

 

Tips lain dalam berorasi adalah bagaimana cara bernafas. Bernafas dari perut atau diafragma lebih baik karena sangat efektif dalam mengatur intonasi, konsentrasi, dan mengatasi kegugupan. Selain itu, jangan terlalu lama dalam berorasi: 5-10 menit adalah waktu yang cukup lama dalam berorasi. Dalam demonstrasi pasti banyak orang yang akan melakukan orasi. Jangan sampai orang lain bosan atau merasa tidak nyaman karena terlalu lama berorasi. Terakhir, orasi tergantung pada percaya diri yang muncul dari jam terbang. Hal yang sangat penting adalah menguasai materi.

 

“Dimana kawanku? Dimana kawanku? Datang kemari untuk berorasi!”

 

 

[1] Menurut KBBI yang dimaksud dengan orasi adalah pidato atau berkhutbah. Namun yang ingin dimaksud dalam tulisan singkat ini adalah berorasi ketika aksi atau demonstrasi. Lihat http://kbbi.web.id/orasi