Kamis, 24 Januari 2013 Saya dan teman-teman program PILNet berkesempatan untuk mengunjungi sebuah lembaga bernama The Door yang beralamat di 121 Avenue of the Americas, New York, NY. Sebelumnya kita menyambangi University of Settlement yang tidak jauh dari The Door, menembus dinginnya New York yang mencapai -11⁰C.

Sampai di The Door kita disambut dengan spanduk mengenai Marthin Luther King Jr dan bertuliskan “I Have a Dream”, kemudian muncul penyesalan karena melewatkan hari perayaan MLK pada 21 Januari 2013. Pikiran langsung teralihkan dengan banyaknya anak muda yang hilir mudik melewati pintu otomatis dan petugas jaga. Pandangan langsung lepas pada lantai dasar The Door tersebut, beberapa meja bilyar dan tenis meja tidak ada yang kosong karena dikerumuni anak-anak muda, music HipHop mengiri hentakan stik dan bet tenis meja. Beberapa anak muda menirukan lagu yang sedang diputar, tanpa ragu goyangkan badannya. Saya langsung melihat sekeliling lantai dasar The Door yang luasnya sama seperti hall lapangan basket, puluhan karya seni terpampang dengan sangat menarik, mulai dari lukisan, photo, puisi, hingga patung sapi yang dilukis warna warni.

Seorang teman melapor petugas jaga untuk meminta izin karena sudah ada janji rapat dengan salah satu staff The Door. Sambil menunggu pandangan saya terpaku pada satu spanduk yang berisi larangan memakai simbol, bandana, bendera, atau baju yang melambangkan geng tertentu. Spanduk tersebut juga melarang anggota untuk menggunakan salam atau panggilan tertentu, dan menegaskan bahwa The Door adalah tempat netral untuk siapapun. Seorang teman yang berasal dari Palestina berujar, “Tempat ini sedikit anarkis”. Sepertinya begitu, karena setiap orang dipersilahkan masuk, dianggap sama, dan The Door adalah tempat yang netral untuk semua. Saya kemudian mengatakan, “Sepertinya saya akan menyukai tempat ini”.

Tak lama, saya dan teman-teman masuk dan diantar ke lantai 3 The Door melalui lift. Lagi-lagi puluhan karya seni kontemporer yang identik dengan anak muda terpampang di sekitar lantai 3. Kita pun bertemu dengan Eve Stotland yang merupakan Direktur Pelayanan Hukum di The Door.

Eve bercerita bahwa The Door didirikan pada tahun 1972 diprakarsai oleh sekelompok professional muda di bidang hukum, kedokteran, psikatri, social worker, pendidikan, dan seni yang berfikir bahwa investasi pemuda adalah kunci cerahnya masa depan sebuah kota. The Door merupakan tempat pengembangan potensi dan pemberdayaan pemuda, setiap tahun melayani kurang lebih 12.000 orang yang berumur 12-21 tahun, mayoritas anak berusia 15-16 tahun. Setiap harinya sekitar 35-45 orang datang untuk menjadi anggota dan terlebih dahulu melalui proses wawancara. Tidak dipungut bayaran untuk dapat menjadi anggota The Door, setiap informasi dari anggota pun bersifat rahasia. Adapun dana yang dibutuhkan untuk operasional The Door berasal dari dari pemerintah (70%), sumbangan organisasi atau yayasan (20%) dan sumbangan individu (10%).

Eve kemudian mengajak kita melihat-lihat The Door. Saya terkejut melihat ruangan “Transformation Destination”, ruangan yang cukup menampung 20 orang tersebut penuh dengan poster dan kutipan yang membangun mulai dari Ilmuan seperti Thomas Alva Edison hingga Martin Luther King Jr dan Malcom X. Hebatnya lagi terpampang pula poster table runtutan sejarah “A People’s History of the United States” karya Howard Zinn. Zinn merupakan seorang sejarawan dan aktivis yang mengaku dirinya  sedikit Anarkis dan juga sedikit Komunis. Buku “A People’s History of the United States” memang disukai oleh banyak orang Amerika karena menunjukkan fakta lain dari sejarah Amerika, misalnya Columbus yang dianggap pahlawan dan dirayakan hari kedatangannya setiap tahun di Amerika Serikat justru dijelaskan secara akademis sebagai penjajah dan memulai genosida terhadap penduduk asli Amerika (Indian). Saya kagum anak-anak muda di The Door diberikan pendidikan politik yang progresif.

Eve kemudian membawa saya dan teman-teman melihat studio band, ruang rekaman, ruang kelas dan bimbingan universitas, ruang penyimpanan barang, dan klinik kesehatan. Sambil berjalan, Eve bercerita bahwa The Door setidaknya memiliki 16 bidang dan program, yaitu: Program Pengembangan Karir, Bimbingan Universitas, Konseling, Seni Kreatif, Bahasa Inggris, Program Asuh, Program Diploma (General Education Diploma), Program Kesehatan, Kepemimpinan, Program Kerja dan Magang, Program Hukum dan Keimigrasian, LGBTQ, Rekreasi dan Olahraga, Program untuk “homeless” dan anak yang yang lari dari rumah, Kesehatan Seksual, dan Program Perumahan. The Door membantu anak-anak yang memiliki masalah hukum, masalah keimigrasian, konflik dengan teman sepergaulan, masalah geng, masalah kesehatan seksual, orientasi seksual, bahasa, dan lain-lain. Tidak hanya itu, The Door juga membantu anak-anak yang kehilangan orientasi hidup untuk menggapai masa depan yang lebih baik, banyak staff The Door merupakan alumni The Door yang sudah mengecap pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Mereka kembali untuk mengabdi.

Saya lantas kemudian berfikir, kenapa organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, atau pemerintah pusat di Indonesia tidak memiliki tempat semacam ini? atau kenapa tidak ada sekelompok masyarakat di Indonesia yang berinisiatif membuat tempat seperti ini. Mungkin masalah dana jadi hambatan, tapi masalah dana tentunya juga dialami oleh sekelompok pemuda yang mendirikan The Door di tahun 1972. Memang ada beberapa tempat pengembangan pemuda yang dibentuk oleh partai atau ormas, tapi sayang sekali sangat tertutup dan diskriminatif terhadap pemuda yang lain.

Saya kemudian teringat, beberapa tahun lalu kakak saya berinisiatif menggunakan “Rumah Gadang” milik kaum di Binuang (Padang) untuk memberikan bimbingan belajar gratis kepada pemuda di kampung agar memiliki modal dan semangat melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Namun, inisiatif tersebut tidak berjalan lama karena tidak mendapat dukungan, bahkan tidak ada dukungan dari tokoh masyarakat atau pemuka adat. Saya pun teringat pembicaraan dengan almarhum Bapak/Babe/Abak saya di akhir hayatnya, kita bicara mengenai pemberdayaan pemuda. Almarhum cukup frustasi karena Padang sangat miskin dengan pemimpin, tahun 2013 akan ada pemilihan Walikota baru, namun calon yang muncul tidak lebih dari sekedar “orang karbitan”. Kita sampai pada satu kesimpulan jika ingin perubahan, berdayakanlah pemuda!!!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.