Regenerasi Pekerja Bantuan Hukum Lembaga Bantuan Hukum Jakarta 2012

oleh Alghiffari Aqsa

Regenerasi merupakan suatu keharusan dan hal yang sangat vital dalam setiap organisasi. Bagi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, regenerasi tidak hanya bertujuan untuk menggantikan anggota lama dan menambah anggota baru, melainkan juga untuk menyebarkan nilai-nilai bantuan hukum struktural dan Hak Asasi Manusia. Kekuatan pemikiran yang segar dari kelompok muda juga sangat diperlukan dalam kerja-kerja bantuan hukum struktural melawan “kelompok penindas” demi memperjuangkansi si miskin, lemah, terpinggir dan tertindas. Sejauh ini LBH Jakarta terbukti sangat disiplin melakukan regenerasi dan pengkaderan. Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU), penerimaan Asisten Pengacara Publik, penerimaan Pengacara Publik, pelatihan-pelatihan internal selalu rutin diadakan.

LBH Jakarta menegaskan 3 hal penting sebagai output regenerasi atau pengkaderannya, yaitu:

  1. Nilai

Pekerja Bantuan Hukum (PBH) LBH Jakarta haruslah memahami dan mempraktekkan nilai-nilai bantuan hukum struktural dan Hak Asasi Manusia. Keberpihakannya jelas pada kelompok miskin, marjinal dan tertindas, seperti masyarakat miskin kota, perempuan, kelompok dengan disabilitas, kelompok LGBT, kelompok minoritas agama, buruh, petani, nelayan, dan kelompok tertindas lainnya. PBH LBH Jakarta tidak bisa bersikap netral terhadap permasalahan ketidakadilan sosial yang dialami oleh masyarakat. Dalam pengabdiannya, PBH LBH Jakarta haruslah akuntabel, transparan, profesional, tetap rendah hati, mengedepankan solidaritas, dan selalu memberdayakan masyarakat sebagai aktor utama dari perubahan sosial.

  1. Pemahaman/Pengetahuan

PBH LBH Jakarta haruslah memiliki pemahaman yang mendalam terhadap isu yang menjadi bagian dari advokasi, seperti isu kebebasan beragama, hak-hak minoritas, hak anak, hak atas air, hak atas pendidikan, hak atas perumahan, hak atas lingkungan yang sehat, hak atas pekerjaan dan standar hidup yang layak, hak atas peradilan yang adil, anti korupsi, dan berbagai isu lainnya. Selain itu PBH LBH Jakarta juga harus memiliki kemampuan analisa sosial untuk memahami kondisi sosial politik yang ada, seperti analisa sumber daya hukum masyarakat, analisa konflik, kondisi gerakan buruh, kelompok radikal fundamentalis, kekuatan elit politik, politik luar negeri, dan kondisi lainnya.

  1. Kemampuan Teknis Profesional

Nilai dan pemahaman tidak akan berguna tanpa adanya kemampuan teknis professional. PBH LBH Jakarta harus menguasai teknik hukum acara (pidana, perdata, tata usaha Negara, militer, mahkamah konstitusi, dll), strategi advokasi, analisa kasus, dan advokasi HAM internasional. PBH LBH Jakarta juga harus mampu membuat terobosan yang mendobrak tatanan formal untuk memudahkan masyarakat mencapai keadilan. Kemampuan public speaking, riset, menulis, dan berbahasa asing juga menjadi bagian penting dari kapasitas PBH LBH Jakarta.

Dari tiga hal tersebut di atas, terlihat jelas bahwa LBH Jakarta tidak hanya berkeinginan untuk membentuk pengacara ataupun aktivis yang handal. Identitas PBH LBH Jakarta adalah seorang grassroot lawyer yang mengambil posisi tegas melawan ketidakadilan. PBH LBH Jakarta dituntut tidak hanya handal di persidangan, melainkan juga menjadi seorang penggerak di masyarakat dan menjadi pemikir untuk perubahan.

Alur Regenerasi Pekerja Bantuan Hukum LBH Jakarta

Regenerasi PBH LBH Jakarta bermula dari Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU), KALABAHU diadakan sekali dalam satu tahun dengan peserta yang berjumlah 45-55 orang yang merupakan hasil dari seleksi tes tertulis dan administrasi calon peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Setelah lulus tahap seleksi, peserta kemudian mengikuti KALABAHU yang diadakan selama satu bulan dengan berbagai sesi materi yang terdiri dari pembentukan nilai, pengetahuan/pemahaman, dan kemampuan teknis. Setelah satu bulan, maka kemudian LBH Jakarta akan menentukan kelulusan berdasarkan kehadiran, nilai tugas individu, tugas kelompok, dan keaktifan selama KALABAHU. Peserta KALABAHU yang lulus kemudian berhak untuk mengikuti seleksi sebagai Asisten Pengacara Publik (APP). Asisten Pengacara Publik yang terpilih (8-12 orang) kemudian berkesempatan untuk mengabdi selama 1 tahun, dengan evaluasi 6 bulan dan mengalami rotasi di tiga bidang (Bidang penelitian dan pengembangan, penanganan kasus, dan pemberdayaan sumber daya hukum masyarakat). Tidak hanya itu, APP selama pengabdian juga berkesempatan mengikuti diskusi, seminar, pelatihan, workshop, dan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas yang diadakan oleh LBH Jakarta maupun diadakan oleh organisasi lain yang mengundang LBH Jakarta. Setelah pengabdian selama satu tahun, para APP berhak mengikuti tes sebagai Pengacara Publik. Jika terpilih sebagai Pengacara Publik, maka ia juga berkesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan dan berkonsentrasi dalam isu tertentu di LBH Jakarta.

Alur Regenerasi LBH Jakarta4

Karya Latihan Bantuan Hukum 2012

Tahun 2012, tepatnya 2 April 2012 hingga 11 Mei 2012, LBH Jakarta kembali mengadakan KALABAHU, dan merupakan KALABAHU ke-XXXIII sejak tahun 1980. Dari 100 orang pendaftar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, terdapat 53 jumlah peserta yang terdiri dari 18 peserta perempuan dan 35 peserta laki-laki. Satu orang peserta mendapatkan beasiswa penuh, dua orang mendapatkan potongan biaya, dan empat orang diberi kesempatan untuk mencicil biaya pelatihan. Peserta berkesempatan mendapatkan 21 judul buku yang merupakan sumbangan dari berbagai lembaga.

Materi KALABAHU 2012 berjumlah sebanyak 43 sesi yang terdiri dari Studium General, 10 materi ideologi, 15 materi pengetahuan dasar, dan 18 materi keterampilan/skill. Materi KALABAHU 2012 antara lain Pengantar Ideologi, Critical Legal Study, Teologi Pembebasan, Hegemoni dan Kekuasaan, Pembangunan & Pemiskinan Struktural, Hak-Hak Sipol dan Ekosob, Mekanisme HAM, Korupsi: Akar dan Lingkaran & Mafia Hukum, Manajemen Konflik, Teknik Investigasi & Dokumentasi, Advokasi Media, Strategi dan Taktik Beracara Pidana & Perdata, Judicial Review MA & MK, dll. Tidak hanya sesi materi, pada KALABAHU 2012 juga terdapat dua observasi dan satu Participatory Action Research (PAR). Observasi pertama adalah membangun kontak di daerah-daerah yang digusur atau terancam digusur. Observasi kedua adalah mengamati lingkungan sekitar. Sedangkan PAR dilakukan di 10 komunitas yang terdiri dari komunitas agama/kepercayaan, miskin kota, perburuhan, dan komunitas LGBT. Di akhir KALABAHU 2012, sebanyak 35 orang dinyatakan lulus.

Asisten Pengacara Publik 2012-2013

Setelah mengikuti KALABAHU selama lebih dari satu bulan, peserta yang lulus berkesempatan mengikuti tes Asisten Pengacara Publik (APP). Akhirnya terpilih dua belas orang APP (empat orang perempuan dan delapan laki-laki) yang mulai bekerja pada Juli 2012, yaitu: Rismawati Sibarani S.H., Eny Rofiatul N S.H.,Yohanna F.T. S.H., Rahma Putri S.H., Hirson Kharisma S.H., Ode Zulkarnain Sahji Tihurua S.H., Johannes Gea S.H., Eko Haridani Sembiring S.H., Ade Wahyudin S.H., Dendy Dwiputra, Nelson Nikodemus Simamora S.H., Tigor Hutapea, S.H. Dalam hal pengkaderan, LBH Jakarta melakukan rotasi setiap tiga bulan sehingga APP dapat memiliki pengalaman di bidang yang berbeda. Dalam laporan yang wajib dilakukan setiap 3 bulan, Asisten Pengacara Publik tersebut terlibat dalam konsultasi kasus, korespondensi, pembuatan berkas sidang, menghadiri persidangan, investigasi, gelar perkara, terlibat dalam bipartit dan tripartit, membuat tulisan, editing, pembuatan manual advokasi, melakukan riset, pendokumentasian, mengelola rapat, konsinyering, mengorganisir aksi massa, mengorganisir pelatihan paralegal, pengorganisiran, audiensi, dan berbagai kegiatan lainnya. Dalam peningkatan kapasitas APP diberi kesempatan untuk menghadiri peluncuran buku dan hasil penelitian, diskusi, seminar, workshop, dan berbagai pelatihan. LBH Jakarta juga memiliki diskusi tematik dengan pengantar bahasa Inggris setiap dua minggu yang dapat dihadiri oleh APP.

Pengacara Publik dan Direktur Baru

Tahun 2012 ini LBH Jakarta tidak hanya melakukan perekrutan Asisten Pengacara Publik, tetapi juga melakukan perekrutan Pengacara Publik dan melakukan pergantian Direktur. Adapun Pengacara Publik yang terpilih adalah Sudiyanti S.H, Handika Febrian, S.H, dan Ahmad Biky, S.H.. Sedangkan Direktur LBH Jakarta periode 2012-2015 terpilih adalah Febi Yonesta, S.H., menggantikan Nurkholis Hidayat, S.H.

Tahun ini terlihat pengembangan kapasistas masih sporadis dan kurang terencana pasca KALABAHU 2012. Terdapat mekanisme pelaporan yang lebih baik dari sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, rekomendasi terkait regenerasi adalah adanya manual pengkaderan yang jelas untuk Asisten Pengacara Publik (APP) dan Pengacara Publik LBH Jakarta ataupun strategi pengembangan kapasitas atau pengkaderan selama satu tahun di LBH Jakarta. Pengembangan kapasitas dan pengkaderan tidak hanya ketika PBH LBH Jakarta menjadi APP, melainkan juga ketika menjadi Pengacara Publik. Pengkaderan adalah sepanjang pengabdian. Meskipun yang paling utama adalah kesadaran pribadi setiap PBH LBH Jakarta.