BAP memang bukan merupakan alat bukti di persidangan, walaupun terdapat keterangan saksi atau keterangan ahli. Keterangan saksi atau keterangan ahli tersebut baru dapat dikatakan sebagai alat bukti jika diberikan di depan persidangan. Namun seringkali BAP dengan mudah direkayasa dan akhirnya merugikan Tersangka/Terdakwa ataupun korban, berkas dilimpahkan ke Kejaksaan dan kemudian sampai di persidangan.

Modus Rekayasa BAP:

  1. Keterangan yang diberikan ketika BAP ternyata berubah ketika berkas dilimpahkan ke Kejaksaan. Tanda tangan kemudian dipalsukan.
  2. Keterangan ditambahkan oleh penyidik tanpa melalui proses BAP ataupun dikurangi.
  3. Penyidik dan Saksi ataupun Tersangka bekerja sama untuk membuat BAP yang memberatkan ataupun yang meringankan. Bahkan terdapat kasus dimana yang membuat BAP adalah lawyernya tersangka.
  4. Keterangan ketika wawancara tidak ditulis sebagaimana mestinya oleh penyidik, dipotong atau tidak ditulis sehingga merubah makna dari jawaban. Penyidik langsung meminta tanda tangan saksi/tersangka tanpa memberi kesempatan untuk mengecek ataupun saksi/tersangka tidak jeli.
  5. Penyidik membuat sendiri BAP tanpa ada wawancara, saksi/tersangka hanya diminta untuk tanda tangan.
  6. Pertanyaan penyidik sangat mengarahkan keterangan dan tidak memberikan kesempatan untuk memberikan keterangan yang meringankan/memberatkan. Seringkali juga disertai dengan penyiksaan.

Oleh karena itu, baik saksi/tersangka maupun penasehat hukum haruslah jeli dalam mendampingi, melihat atau melakukan BAP karena dapat merugikan. Kasus kemudian dapat lanjut ke persidangan.

Jika BAP ternyata direkayasa, BAP dapat dicabut di depan persidangan dengan  memberikan alasan-alasan yang rasional kepada Hakim. Namun banyak juga fakta dimana terdapat saksi/terdakwa tidak dapat mengelak dari BAP yang telah direkayasa, karena buta hukum ataupun berada di bawah ancaman.